Menanti Dampak Aksi Korporasi Terhadap Industri Halal Pada Tahun 2024

Artikel Muamalat Institute

Menanti Dampak Aksi Korporasi Terhadap Industri Halal Pada Tahun 2024

Oleh : Kurnia Haryakusuma, S.E., MSc

Pada tahun 2023, Indonesia mencapai posisi 3 (tiga) dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI dan State of the Global Islamic Economy (SGIEI) Report 2023. Pemerintah melakukan inisiatif penting dalam pengembangan ekonomi syariah, termasuk layanan sertifikasi halal dan program sosialisasi sertifikasi halal yang mudah, cepat, transparan, murah dan bahkan gratis. Dalam indikator makanan halal indonesia bertahan pada posisi kedua dan posisi ketiga untuk indikator modest fashion. Sedangkan dalam lingkup keuangan syariah, indonesia turun satu peringkat dari posisi 6 menjadi 7. Perbankan syariah di Indonesia berperan penting dalam mendukung perputaran ekonomi, terutama dalam pembiayaan rumah, UMKM, haji, dan umroh. Hadirnya bank syariah kedua terbesar di Indonesia diharapkan dapat menurunkan cost of fund dan memberikan stimulasi kepada pelaku UMKM. Produk perbankan syariah yang khusus, seperti SRIA dan CWLD dapat menjadi pilihan bagi investor dan menjadi indikator pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Tingginya cost of fund perbankan syariah menjadi tantangan dalam pengembangan industry halal. Per Oktober 2023, terdapat 64,2 juta pelaku UMKM dengan potensi kebutuhan pendanaan sekitar 1.605 triliun. Total aset perbankan syariah mencapai 831,95 triliun per September 2023, dengan market share 7,27%. Upaya konkrit lainnya yang dilakukan oleh pemerintah yaitu, menyiapkan rencana penggabungan Bank Muamalat dengan UUS BTN untuk mencapai lembaga keuangan syariah dengan modal di atas 100 triliun.

Kata kunci: State of the Global Islamic Economy (SGIEI), Industri Halal, Perbankan Syariah