Bank Muamalat Indonesia dan Muamalat Institute Akselerasikan Gerakan Literasi Syariah

Cirebon – Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Muamalat Institute (MI) menggelar program Corporate Social Responsibility (CSR) “Gerakan Literasi Syariah (Geulis)”. Aksi ini dilakukan untuk memperkenalkan literasi syariah bersama khususnya di Cirebon.

Adapun acara berlangsung selama dua hari untuk semua jenjang tingkat sekolah dari mulai MI, MTS, SMP & SMK. Program GEULIS juga dihadari 1500 (Seribu Lima Ratus) siswa-siswi dari semua jenjang pendidikan.

Executive Director MI, Anton Hendrianto mengatakan, pihaknya merancang program GEULIS demi mendukung literasi keuangan syariah dengan cara yang kekinian dan dapat mudah dicerna oleh generasi muda saat ini. Ia percaya bahwa potensi Keuangan Syariah di Indonesia sangatlah tinggi. Keuangan Syariah akan menjadi solusi untuk ekonomi masyarakat Indonesia untuk bertumbuh dan berkembang setelah masa pandemi.

“Kami, MI akan terus mendukung literasi syariah melalui sinergi dengan semua pihak dalam ekosistem Syariah dan kami akan terus berinovasi agar semakin terciptanya program Literasi Keuangan Syariah yang semakin baik demi terciptanya ekosistem syariah yang lebih baik untuk Indonesia yang lebih maju dan unggul,” jelas Anton pada keterangannya, 22 April 2022.

Baca : Launching Program GEULIS, Muamalat Institute Hidupkan Ekosistem Literasi Syariah Untuk Bangsa

Semenjak program ini diluncurkan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BMI dan MI terus melakukan GEULIS secara terstruktur di seluruh Indonesia demi terciptanya peningkatan yang signifikan pada Literasi Keuangan Syariah demi pertumbuhan Industri Jasa Keuangan Syariah.

Pada kesempatan yang sama, Akbar Tanjung Bidang Kurikulum Al Washliyah mengatakan Program Geulis yang disponsori oleh BMI dan MI sangatlah bermanfaat khususnya untuk siswa dalam mengkaji pentingnya bermuamalah secara syariah semenjak dini dan agar sepatutnya diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari sehingga dapat mendorong pertumbuhan syariah di Indonesia, khususnya area Cirebon.

Baca : Kalender Online Class Muamalat Institute Bulan Mei 2022

Muamalat Institute Mendukung Universitas Muhammadiyah Malang dalam Peluncuran CoE

Jakarta – Bank Muamalat Indonesia (BMI) menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk bekerja sama dalam melakukan Launching Kelas Professional Center of Excellence (CoE). CoE sendiri merupakan suatu program unggulan program studi untuk mengimplementasikan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Program ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa sebagai tenaga kerja professional. Executive Director Muamalat Institute Anton Hendrianto mengatakan, Program Center of Excellence (CoE) Prodi EP FEB-UMM merupakan program yang bagus.

“Program ini kenapa saya katakan bagus? Karena dapat menunjang dan menyiapkan SDM ekonomi syariah yang kompeten dan mumpuni, sehingga dapat membantu kemajuan pertumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia nantinya,” ujar Anton pada keterangannya beberapa waktu lalu.

Anton mengatakan, pihaknya sudah berkerja sama dengan pihak FEB UMM, dalam pengembangan program Center of Excellence (CoE) ini. Menurutnya, program ini berguna untuk mewadahi mahasiswa yang memiliki passion dalam dunia perbankan

Adapun Mahasiswa yang mengikuti program CoE akan diberikan ekuivalensi sebanyak 20 SKS, setelag mengikuti beberapa tahapan seleksi. Nantinya, terpilih mahasiswa yang akan diberikan pembekalan, untuk disiapkan magang di berbagai wilayah di Indonesia dengan waktu selama 6 bulan lamanya.

Program diikuti ratusan mahasiswa dari Prodi EP UMM, Manajemen, Agribisnis hadir secara daring dan luring yang mengikuti kegiatan tersebut.

Baca : Kalender Online Class Muamalat Institute Bulan Mei 2022

Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto, Rektor UMM Fauzan, Dekan FEB UMM Idah Zuhroh turut hadir langsung dalam kegiatan tersebut.

Usai Launching, kegiatan dilanjutkan dengan kuliah tamu yang dihadiri langsung juga oleh Narasumber tamu, dari MI yaitu Anton Hendrianto yang merupakan Executive Director Muamalat Institute.

Dekan FEB UMM, Idah Zuhroh mengatakan, Kelas Perbankan Syariah merupakan kelas professional Prodi EP UMM pertama yang telah di Launching oleh Prodi EP UMM dari tiga kelas professional lainnya yang telah disiapkan.

Sebagai informasi, peluncuran Kelas Professional Center of Excellence (CoE) diawali dengan Kelas Profesional Perbankan Syariah. Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa dari Prodi EP UMM, Manajemen, Agribisnis hadir secara daring dan luring yang mengikuti kegiatan tersebut.

Dekan FEB UMM, Idah Zuhroh mengatakan, Kelas Perbankan Syariah merupakan kelas professional Prodi EP UMM pertama yang telah di Launching oleh Prodi EP UMM dari tiga kelas professional lainnya yang telah disiapkan.

“Bahwa program ini dirancang dengan berkolaborasi dengan beberapa DUDI seperti Perbankan khususnya BMI, Fintech dan BPRS Bumi Rinjani dan berbagai bank syariah lainnya yang belum bergabung,” ujar Idah Zuhroh dalam kesempatan yang sama. 

Baca : Launching Program GEULIS, Muamalat Institute Hidupkan Ekosistem Literasi Syariah Untuk Bangsa

Muamalat Institute Mendorong Industri Syariah dengan Gandeng LSP Beksya

Jakarta – Muamalat Institute melakukan penandatanganan MoU, dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Bisnis Ekonomi Keuangan Syariah (LSP BEKSYA) secara daring. Dengan kerja sama ini, Muamalat Institute berharap akan terjalin hubungan antara lembaga serta memberikan kontribusi dalam peningkatan literasi dan kompetensi Industri Syariah.

Direktur Eksekutif Muamalat Institute Anton Hendrianto mengatakan, kerja sama ini merupakan komitmen dari kedua institusi untuk terus mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam memajukan perekonomian Syariah.

“Ini merupakan satu aliansi strategis buat kami di Muamalat Institute, bahwa industri keuangan syariah di Indonesia mengalami sebuah trust. Kenapa harus beraliansi secara strategis, karena menurut kajian di tahun 2022 ini, ada kurang lebih sekitar 500 triliun bisnis potensial yang akan datang dari industri keuangan syariah yang terdiri dari beberapa sektor industri,” ujar Anton pada keterangan tertulisnya di Jakarta.

Ia menambahkan, Muamalat Institute ingin agar Industri Keuangan Syariah makin inklusif, dengan menghadirkan literasi keuangan syariah. Langkah ini didukung dengan menghadirkan orang-orang yang kompeten. Sinergi Muamalat dan LSP BEKSYA akan menjadi sebuah langkah nyata dalam memajukan industri syariah.

Baca : Launching Program GEULIS, Muamalat Institute Hidupkan Ekosistem Literasi Syariah Untuk Bangsa

Ketua Dewan Pengarah LSP BEKSYA Abdul Aziem yang mewakili Direktur Eksekutif LSP BEKSYA Alpian Saputra mengatakan, kerja sama dengan Muamalat Institute ini berlaku untuk jangka panjang. Ia optimis meski marketshare industri ekonomi syariah masih kecil, namun perkembangannya terus tumbuh. Ekonomi halal di Indonesia yang menjadi ecosystem Industri Syariah juga tengah tumbuh pesat.

“Mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, dan Bank Muamalat Indonesia hadir sebagai pelopor kebangkitan ekonomi syariah, butuh untuk bersinergi dengan semua pihak untuk merangkul dan memajukan ekonomi syariah dinegara kita tercinta,” katanya.

Baca : Kalender Online Class Muamalat Institute Bulan Mei 2022

Muamalat Institute Perkuat SDM Nasional dengan Bersinergi Gandeng UNISMA

Jakarta – Muamalat Institute (MI) bersinergi dengan Universitas Islam Malang (UNISMA), dalam mencetak bibit unggul sumber daya manusia (SDM) Ekonomi Syariah.

Direktur Eksekutif Muamalat Institute Anton Hendrianto menuturkan, Muamalat Institute siap menjadikan UNISMA sebagai pilot projects program Muamalat Indonesia Kompeten (MIKO), yang nantinya akan menyebar ke kampus-kampus di seluruh Indonesia.

“Ini adalah tanda-tanda kebangkitan industri Ekonomi Syariah di Indonesia. Maka dari itu, kita perlu menciptakan suatu terobosan, menciptakan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang luar biasa kompeten,” ujar Anton pada keterangannya, 21 Februari 2022.

Baca : Kalender Online Class Muamalat Institute Bulan Mei 2022

Program MIKO sendiri adalah salah satu ikhtiar Muamalat Institute, dalam upaya menciptakan kualitas sumber daya manusia yang baik, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi syariah, dan juga industri halal Indonesia ke arah yang lebih baik.

“Kami dari sisi industri, harus membuka diri, dan mendekatkan diri ke kampus. Alhamdulillah UNISMA adalah salah satu kampus yang membuka diri lebar-lebar, dan menerima penerapan MIKO,” tambah Anton

Di sisi lain, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang Dr. Rini Rahayu Kurniati mengatakan, program MIKO memiliki banyak manfaat bagi UNISMA. Salah satunya adalah pengarahan-pengarahan untuk mahasiswa, seperti cara marketing push dan administrasi bisnis agar kredibel, kreatif, mengelola resiko, serta mampu menjalin costumer relationship.

Program-program ini nantinya akan memberikan sertifikat bagi mahasiswa. Sertifikasi ini tentunya menambah peluang mahasiswa untuk bergabung dengan industri keuangan syariah Bank Muamalat Indonesia.

Baca : Muamalat Institute dan Bank Muamalat Terus Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah

MI dan UMY Dorong Mahasiswa Jadi SDM Ekonomi Syariah yang Kompeten

Yogyakarta — Muamalat Institute dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan MoU, atau penandatanganan nota kesepahaman, Senin (7/2/2022).

Penandatanganan MoU itu dilakukan langsung oleh Rektor UMY Prof. Gunawan Buanto dan Direktur Eksekutif Muamalat Institute Anton Hendrianto serta pihak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yakni Kepala Prodi Ekonomi Syariah Khumaedi Khamid, Dekan Fakultas Agama Islam UMY dan Dr. Syakir Jamaluddin.

MoU itu dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia (SDM) ekonomi syariah yang berkompeten, dan bisa langsung terjun di dunia industri keuangan syariah.

Selain penandatanganan MoU dan PKS, acara juga dilanjutkan dengan workshop Leardership yang bertajuk ‘Focus on What Matters’ dan dibawakan dalam Bahasa Inggris selama tiga jam program.

Kepala Program Studi Ekonomi Syariah, Khumaedi Khamid mengatakan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melalui Prodi Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam menginginkan, agar mahasiswanya kompeten. Terampil serta siap dalam pengelolaan operasional bank syariah secara efektif, dan siap berkiprah pada industri perbankan syariah secara masif.

Menurutnya, mahasiswa perlu memahami konsep perbankan syariah, dan menguasai berbagai kemampuan teknis perbankan baik secara individu maupun kelompok (personal and team skill). Sehingga nantinya mampu mengembangkannya pada proses praktik perbankan di dunia kerja.

“Dorongan (motivasi) dalam bentuk kegiatan terpadu kepada mahasiswa secara berkelanjutan, seperti sekarang ini, diharapkan mampu membentuk kultur positif. Kebutuhan terhadap pengenalan dan simulasi kerja perbankan syariah, dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa, guna mendukung tercapainya tujuan praktik perbankan mahasiswa pada lembaga keuangan perbankan syariah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (7/2/2022).

Baca : Launching Program GEULIS, Muamalat Institute Hidupkan Ekosistem Literasi Syariah Untuk Bangsa

Sementara, Executive Director of Muamalat Institute Anton Hendrianto mengatakan, pihaknya yakin mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah FAI UMY bisa terjun dan terserap di industri keuangan syariah jika lulus nanti, tentu saja mahasiswa yg memiliki kompetensi yg mumpuni.

Karena menurut Anton, dari data yang tertera, menurut World Economic Forum, ada 10 skill yang dibutuhkan di Tahun 2025 dab kami yakin skill tersebut dapat meningkatkan industri keuangan syariah dan industry halal. Hal ini karena industri keuangan syariah dan industri halal akan terus berkembang dengan pesat.

“InsyaAllah teman-teman mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah FAI UMY nanti terserap di dunia kerja yang halal. Yang penting ada dorongan, kemauan dalam diri untuk berikhtiar dalam berusaha semaksimal mungkin,” kata Anton yang sebagai fasilitator pembekalan untuk Mahasiswa UMY.

Dirinya berharap, agar mahasiswa ekonomi syariah dapat meningkatkan kualitas diri, sehingga menambah SDM yang unggul di Indonesia.

“Sehingga kita bisa lihat adik-adik mahasiswa ini nantinya bisa maju kedepan, Insya Allah ini menjadi Langkah awal kita bisa maju bersama.

“Ini (workshop menggunakan bahasa Inggris) untuk mempersiapkan generasi muda yang dapat menangkap dan mengembangkan peluang yang sangat besar pada industry syariah,” pungkas Anton pejabat senior di Bank Muamalat Indonesia tersebut.

Muamalat Institute dan Bank Muamalat Terus Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah

Jakarta – Muamalat Institute dan Bank Muamalat terus mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia khususnya dalam aspek industri halal dan digitalisasi. Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K. Permana mengatakan, saat ini Indonesia menduduki posisi ke-4 dalam indeks indikator ekonomi Islam global atau Global Islamic Economic Indicator (GIEI).

Selain itu, Indonesia juga tercatat dalam 6 sektor industri halal yaitu makanan halal, keuangan syariah, wisata halal, busana muslim, farmasi dan kosmetik halal dan media-rekreasi halal. Potensi nilai industri halal diperkirakan akan terus mengalami peningkatan pada tahun 2022.

“Resiliensi terhadap perkembangan teknologi di era digital menjadi modal untuk bangkit dan optimistis akan pemulihan ekonomi nasional, serta mendorong terwujudnya Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia. Alhamdulillah kini Bank Muamalat juga sudah bangkit dan akan ikut serta mendorong pertumbuhan ekosistem syariah,” ujar Permana seperti dikutip 2 Februari 2022.

Baca : Muamalat Institute Luncurkan Learning Management System (LMS) Berbasis Komputasi Awan

Sementara itu, Direktur Eksekutif Muamalat Institute Anton Hendrianto menambahkan, sinergi kebijakan yang erat dan kinerja perekonomian pada tahun 2021 menjadi modal untuk bangkit dan optimistis akan pemulihan ekonomi Indonesia yang lebih baik pada tahun 2022.

Hal ini mengingat Indonesia memiliki banyak sumber daya yang memungkinkan untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Untuk itu, Muamalat Institute menggelar webinar yang mengusung tema “Strengthening Economic Foundation and Resilience in Digitalization Era”.

“Webinar ini membahas mengenai bagaimana proyeksi ekonomi syariah, market dan teknologi 2022. Seberapa dalam dampak pandemi Covid-19 terhadap Ekonomi syariah di Indonesia. Bagaimana tren teknologi dan inovasi pada tahun 2022 dan bagaimana peran teknologi terkini (metaverse) terhadap pertumbuhan ekonomi dan industri halal di Indonesia,” kata Anton.

Webinar ini juga merupakan bentuk literasi kepada publik khususnya kepada klien Muamalat Institute (Bank Umum, BPD, BPRS, Asuransi, Multifinance, Koperasi dan Universitas) dan seluruh nasabah prioritas Bank Muamalat untuk bisa saling bersinergi membangun ekonomi syariah di Indonesia.

Baca : Launching Program GEULIS, Muamalat Institute Hidupkan Ekosistem Literasi Syariah Untuk Bangsa

Kolaborasi KNEKS, MI dan BMI Luncurkan Modul Literasi SCF Syariah dan Pedoman Zona KHAS

JAKARTA – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) bekerjasama dengan Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Muamalat Institute (MI), meluncurkan Modul Literasi Securities Crowdfunding (SCF) Syariah dan Pedoman Zona KHAS, Rabu (15/12/2021).

Direktur Eksekutif KNEKS Ventje Rahardjo mengatakan, peluncuran modul literasi SCF ini dalam rangka mempercepat pertumbuhan layanan SCF Syariah sebagai alternatif pendanaan bagi UMKM dan meningkatkan daya saing UMKM Kuliner Halal melalui Zona Kuliner Halal, Aman dan Sehat (KHAS).

Ia menuturkan, pada tahun 2020, KNEKS telah menyusun Rencana Kerja KNEKS 2020-2024, sebagai acuan program kerja KNEKS bersama para stakeholder terkait dalam mempercepat pengembangan sektor ekonomi Syariah Indonesia.

Merujuk pada Rencana Kerja KNEKS 2020-2024, pengembangan dan pemberdayaan UMKM merupakan salah satu program prioritas dalam mendukung Bisnis dan Kewirausahaan Syariah.

“Ditengah kondisi pandemi, industri halal terutama pada segmen bisnis UMKM terkena dampak yang cukup signifikan. Industri perhotelan mengalami penurunan omzet sebesar 25 persen hingga 50 persen termasuk halal tourism,” ujar Direktur KNEKS.

Begitu juga industri fashion muslim, lanjutnya, mengalami penurunan penjualan sampai 30 persen.

Sementara itu, transaksi mobile banking syariah meningkat sampai 86 persen dan transaksi e-commerce meningkat hingga 400 persen, terutama harga bahan pokok di e-commerce meningkat sampai 18,82 persen.

Baca : Muamalat Institute Luncurkan Learning Management System (LMS) Berbasis Komputasi Awan

Di Indonesia sendiri selama pandemi Covid-19 tahun 2020, konsumsi rumah tangga pada industri makanan masih tumbuh positif.

Triwulan ke-3 tahun 2020, industri makanan dan minuman menjadi penyumbang terbesar pada PDB nasional sebesar 7,02 persen. Sub kuliner memberikan kontribusi cukup besar yaitu 30 persen dari total pendapatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Selain itu konsumsi kuliner halal di Indonesia memiliki dominasi cukup besar dalam pasar Syariah global. Hal ini terbukti dengan perolehan peringkat pertama Indonesia sebagai Muslim Food Expenditure sebesar $144 Miliar pada tahun 2019,” kata Ventje Rahardjo.

Direktur Utama Bank Muamalat Achmad Kusna Permana mengatakan, pihaknya bangga menjadi tuan rumah peluncuran Modul Literasi Securities Crowdfunding (SCF) Syariah dan Pedoman Zona KHAS.

Menurutnya, dalam menghadapi pandemi, pelaku usaha termasuk UMKM telah melakukan optimalisasi dan pivot bisnis guna menjawab perubahan pola konsumsi masyarakat, khususnya masyarakat muslim yang cenderung bergeser untuk mengkonsumsi kebutuhan bersifat primer dan yang menunjang kesehatan.

Salah satu permasalahan utama dampak dari pandemi terhadap UMKM adalah sumber pendanaan untuk penguatan modal dalam rangka melanjutkan bisnis. Nilai pendapatan usaha yang menurun secara drastis tidak dapat menutup biaya usaha maupun pengembalian modal.

Pinjaman dari bank pada umumnya mensyaratkan dokumentasi lengkap, pencatatan keuangan hasil usaha yang baik, serta kebijakan untuk menyediakan jaminan berupa aset.

Tidak semua UMKM, terutama skala mikro dan kecil, dapat memenuhi persyaratan tersebut, sehingga diperlukan alternatif sumber pendanaan yang berkelanjutan dan efisien untuk UMKM.

“Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan jangka panjang bagi UMKM, Securities Crowdfunding (SCF) telah beroperasi sebagai alternatif,” ujarnya.

SCF merupakan metode pengumpulan dana dengan skema patungan yang dilakukan oleh pemilik bisnis atau usaha untuk memulai atau mengembangkan bisnisnya.

Investor dapat membeli dan mendapatkan kepemilikan melalui saham, surat bukti kepemilikan utang (obligasi), atau surat tanda kepemilikan bersama (Sukuk).

Saham dari usaha tersebut diperoleh sesuai dengan persentase terhadap nilai besaran kontribusinya.

“Dalam rangka memenuhi kebutuhan UMKM, termasuk UMKM produk halal, aspek pendanaan juga perlu dipenuhi dengan skema Syariah dengan tujuan untuk memastikan kehalalan disepanjang rantai nilai dan operasi bisnis,” jelasnya.

Sementara, Direktur Eksekutif Muamalat Institute (MI) Anton Hendrianto mengatakan, melalui peluncuran Modul Literasi Securities Crowdfunding (SCF) Syariah dan Pedoman Zona KHAS ini.

Adalah sebuah milestone baru bagi Muamalat Institute dalam memberikan solusi terbaik bagi client MI. Setelah kita cukup kuat di training dan consultants.

“Saat ini adalah kami membantu KNEKS untuk bisa membuat pertumbuhan perkembangan UMKM di Indonesia. Kita bantu buatkan modul yang dapat dimengerti oleh semua pihak terkait, mulai dari Investornya juga dari UMKM-nya,” kata Anton yang juga pejabat senior Bank Muamalat Indonesia.

Menurutnya, melalui modul ini, Investor dan UMKM produk halal dapat dengan mudah dipertemukan melalui suatu platform berbasis teknologi secara online, serta menggunakan akad transaksi yang memenuhi aturan Syariah.

Investor mendapatkan keuntungan dalam bentuk dividen atau bagi hasil dari keuntungan usaha tersebut, yang dibagikan secara periodik.

Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah Putu Rahwidhiyasa menambahkan,

Peran strategis SCF antara lain, dapat membantu para UMKM, termasuk UMKM produk halal, terkait sumber pendanaan alternatif untuk jangka panjang.

Skema pendanaan Syariah dalam rangka mewujudkan kehalalan di seluruh aspek keuangan dan bisnis.

“Juga mendukung terwujudnya ekonomi Syariah berbasis digital (Islamic Digital Economy). InsyaAllah kita akan terus mendukung KNEKS dalam menumbuhkan ekonomi di Indonesia,” tutup Putu.

Baca : Launching Program GEULIS, Muamalat Institute Hidupkan Ekosistem Literasi Syariah Untuk Bangsa

Gelar Webinar Client Gathering , Muamalat Institute eratkan relationship

Jakarta – Muamalat Institute menggelar acara ‘Webinar Gathering’ dengan client di seluruh Indonesia. Acara ini mengangkat tema “Muamalat Institute Lifetalk Special Gathering”,  melalui zoom, Jumat (28/10/2021).

Direktur Executive Muamalat Institute Anton Hendrianto mengatakan, kegiatan ini diadakan untuk mempererat tali silaturahmi dengan Client Prioritas Muamalat Institute.

Webinar gathering kali ini digelar dua sesi, yang pertama dengan tema “Pentingnya Learning Management System di era New Normal” dan “How to Achieve Work Life Balance”, bertujuan membantu meningkatkan produktifitas dan kinerja perusahaan.

Sedangkan webinar kedua, temakan “Strategi Jitu untuk Memaksimalkan Potensi Tim” dan “How to Develop Digital Transformation Strategy”.

“Kita tidak hanya mengenalkan Produk Muamalat Institute kepada Client, tetapi juga mengajak semua stakeholder untuk membangun sumber daya manusia yg kompeten untuk Indonesia yg tangguh dan tumbuh ,” jelas Anton.

Baca Juga: https://muamalat-institute.com/muamalat-institute-dan-iigma-fasilitasi-sertifikasi-kompetensi-treasury-dealer/

Sementara, Burhibani, salah satu peserta Webinar mengaku Seneng sekali mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Muamalat Institute.

Menurutnya, pelatihan-pelatihan yang disajikan oleh Muamalat Institute betul-betul yang dibutuhkan oleh Masyarakat saat ini.

“Ilmu-ilmu seperti ini sangat menarik, seneng bisa mengikuti kegiatan ini”, tutup Burhibani diakhir sesi kegiatan.

Kedepan MI akan terus mendorong kegiatan-kegiatan positif dan mefasilitasi program yang menjawab tantangan pada era yg semakin menantang kedepan, tutup Anton yang juga sebagai pejabat senior di Bank Muamalat Indonesia. (Zaenal)

Launching Program GEULIS, Muamalat Institute Hidupkan Ekosistem Literasi Syariah Untuk Bangsa.

Potensi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia sangatlah besar. Masih banyak ruang di sektor tersebut yang dapat terus dioptimalkan. Namun salah satu tantangan pengembangan sektor tersebut ialah masih rendahnya tingkat literasi ekonomi syariah dan inklusi keuangan syariah di Indonesia.

Menanggapi situasi tersebut, kami Muamalat Institute (MI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat terobosan untuk membuat literasi dengan mengunakan pendekatan multimedia dan digital, untuk memulainya diadakan Seminar Nasional bertajuk “Literasi Keuangan Syariah di Era Digital” dan Launching Gerakan Literasi Syariah (GEULIS)

Seminar ini bertujuan untuk menumbuhkan tingkat literasi dengan konten yang inovatif dalam membahas ekonomi dan keuangan syariah secara mudah dan juga dapat menambah khazanah bahan bacaan di Taman Baca Masyarakat (TBM) yang tersebar di Indonesia.

Acara ini digelar secara virtual Sabtu (28/8/2021) diselenggarakan oleh MI, Bank Muamalat Indonesia, OJK, Perpusnas RI, dan Forum Taman Bacaan Masyarakat se-Indonesia.

Acara ini juga mengadakan diskusi panel yang menghadirkan Gol A Gong Sebagai Duta Baca Indonesia dan Penulis, Kang Maman Suherman sebagai Jurnalis dan Penulis, Awaldi sebagai Direktur Operational BMI dan juga Penulis Buku “Karyawan Galau Nasabah Selingkuh”, di moderator oleh Chief Human Capital Officer BMI, Riksa Prakoso dan ditengah acara ini hadir ketua Umum Pengurus Pusat Forum TBM Indonesia, Kang Opik untuk menandatangani MoU antara Muamalat Institute dan Forum TBM Indonesia.

Dengan semakin banyaknya konten-konten kreatif yang membahas ekonomi dan keuangan syariah, maka masyarakat akan semakin tertarik dan mudah memperoleh pemahaman terkait ekonomi dan keuangan syariah sejak dari awal.

Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horas Tarihoran mengatakan pihaknya mengapresiasi inisiatif yang dimotori oleh MI demi mendukung literasi keuangan syariah. Pasalnya kata dia, walaupun potensi syariah yang tinggi tapi indeks inklusi keuangan rendah dan literasi keuangan juga rendah.
“Kami berharap kedepan bukan hanya Bank Muamalat. Jangan jadikan aturan OJK untuk melaksanakan literasi keuangan, sebagai beban. Tapi justru sebagai investasi. Kita edukasi dulu, baru kita jualan produk,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando yang diwakili Upriyadi, berharap dengan adanya acara ini dapat meningkatkan indeks literasi.

Sementara itu, CEO Bank Muamalat Indonesia, Achmad K Permana mengatakan, pihaknya sangat setuju harus ada terobosan dalam mengedukasi masyarakat. Dalam meningkatkan literasi agar dapat menumbuhkan ekonomi syariah di Indonesia.

“Seperti pendekatan kekinian, dengan digital. Meningkatkan literasi keuangan bukan hanya pekerjaan rumah dari regulator saja. Saya setuju dengan pak Horas. Kita harus melibatkan semua,” ujarnya.

CEO BMI berharap “Bahwa inovasi tidak berhenti sampai disini, MI harus terus berinovasi untuk memberikan sumbangsih nyata untuk perekonomi syariah di Indonesia.”

Executive Director Muamalat Institute, Anton Hendrianto mengatakan, pihaknya membuat program ini karena berdasarkan data BPS minat baca kita masih rendah. Selain itu berdasarkan data OJK, Literasi Keuangan Syariah juga rendah.

“Maka kami mengusulkan kepada OJK, membuat satu program. Dalam bentuk kartun. Kita melaunching episode 1, bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional, Forum Taman Baca Masyarakat Indonesia, bagaimana kita menggemarkan membaca. Sehingga literasi syariah kita dan literasi membaca kita meningkat. Insya Allah kami terus berkomitmen untuk mendukung literasi syariah dengan bersinergi dengan semua pihak dalam ekosistem syariah, maka tunggu program garapan generasi muda MI dalam project MIDIO (MI Studio) yang dipersembahkan untuk Indonesia yang tangguh dan tumbuh pada sektor ekonomi syariah,” jelas Anton yang juga pejabat senior di Bank Muamalat Indonesia. (Z_A_

MI Dukung BMI meningkatkan Digitalisasi Melalui MAP DB

JAKARTA – Muamalat Institute (MI) selaku anak perusahaan Bank Muamalat Indonesia (BMI) mendukung berjalannya  program Muamalat Associate Program Digital Banking (MAP-DB), untuk berkontribusi pada pertumbuhan digitalisasi perbankan Syariah melalui BMI.

Dalam acara yang diselenggrakan secara Live di MI-DIO (Studio Muamalat Institute) yang memiliki bisnis Multimedia. Hadir secara langsung Direktur Bisnis Retail, Purnomo B. Soetadi, Direktur Operasional, Awaldi, Chief Human Capital Officer, Riksa Prakoso, Pejabat senior dan seluruh orang tua peserta. Kegiatan ini juga mengangkat tema “Fixing The Glitch in Disruption Era”, melalui daring.

Purnomo B. Soetadi Direktur Bisnis Ritel BMI menyatakan, MAP Digital Banking adalah sebuah inisiatif dari BMI, bahwa mau enggak mau dalam situasi seperti sekarang ini, landscape-nya sudah berubah, kebutuhan nasabahnya berubah, ekosistem disekelilingnya berubah, dan behavior-nya juga berubah.

Contoh perubahan itu adalah biasanya kita setiap pagi membaca surat kabar, atau nunggu berita di televisi, sekarang kita tinggal membaca berita melalui handphone kita saja, yang bisa diakses setiap saat.

“Alhamdulilah, selamat datang di Bank Muamalat, saya sampaikan kepada para MAP digital banking Bank Muamalat. Kita harus bersyukur bisa berkumpul dalam keadaan sehat wal’afiat. Saya mewakili pak Ahmad K. Permana, Presiden Direktur Bank Muamalat, beliau menitipkan salam, selamat kepada para MAP digital banking yang telah bergabung di Bank Muamalat, beliau kebetulan belum bisa join pada acara ini, tetapi nanti Insya Allah di event selanjutnya, pak Dirut akan menyapa langsung temen-temen sekalian,” tutupnya sambil meresmikan opening ceremony MAP DB BMI, Senin (2/8/2021).

Head People Development & Culture, Anton Hendrianto merasa bangga kepada seluruh peserta MAP-DB ini yang terpilih. Ia meyakini ke-20 orang yang telah terpilih dan bergabung di MAP-DB ini akan berkontribusi nyata untuk membuat perbedaan pada bisnis digital BMI.

Ini adalah salah satu ikhtiar dari BMI untuk menjawab tantangan terkini, di mana saat ini customer dan client semakin berubah. Sehingga cara bekerja pun berubah, dan kedepannya akan bekerja semakin digital.                                                                      

“Pemilihan MAPDB ini dari seluruh kampus Indonesia melalui tujuh seleksi, dan jumlah CV yang masuk 6.400 untuk mengisi 20 posisi. Selamat untuk MAPDB terpilih, tapi ini baru satu pintu yang baru kalian buka, dan ada beberapa pintu yang harus kalian buka untuk membantu BMI mendorong digital ekosistem di Syariah,” ungkap Anton yang juga menjabat sebagai Executive Director di MI.

Anton menambahkan, Peserta MAP DB ini akan melewati beberapa tahap, kurang lebih satu tahun, 6 bulan pertama mereka akan full belajar. Ini adalah bentuk komitmen kuat BMI untuk mewujudkan “IDEAL Place to Work” dengan memastikan seluruh peserta MAP-DB ini memiliki kompetensi yang sama, baik untuk designer maupun untuk developer.

“Sangat berharap di 12 bulan nanti setelah melewati semua ini bisa lulus, dan setelah itu berkontribusi nyata untuk BMI dan juga institusi keuangan Syariah. MI akan mendorong kompetensi digital generasi muda yg meliputi Digital Marketing, Developer, Designer dan Data Scientist melalui program yg terpadu dan terstuktur”, ujarnya. (Z_A)

Open chat
Assalamu alaikum warahmatullohi wabarakatuh.... ada yang bisa kami bantu ?