Oleh : Whayudha Kusumawijaya
Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Bisnis dan Syariah IPB dan Awardee LPDP PK 106

Di era Milenia ini (red zaman now), baik di sadari maupun tidak riba sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan kita. Berbagai macam praktik riba telah tersebar dimana-mana dengan bentuk dan jenis yang berbeda. Ribuan tahun yang lalu Rasulullah telah memperingatkan kita akan hal ini, bahwa “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya,” (HR Ibnu Majah, hadits No.2278 dan Sunan Abu Dawud, hadits No.3331; dari Abu Hurairah).

Allah SWT membenci orang yang melakukan riba. Riba merupakan salah satu dari tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Bahkan dalam sebuah hadits dikatakan bahwa, “ Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan sadaranya.” (HR Al Hakimdan Al Baihaqi dalam Syusbil Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih dilihat dari jalur lainnya )

Pertanyaan :

Bagaimana perlakuan penyelesaian pada Murabahah Bermasalah?

Jawaban :

Ada 3 (tiga) alternatif yang dapat dilakukan, yaitu :

  1.     Diselesaikan (untuk kasus yang sudah tidak ada harapan) dengan cara :

Obyek Murabahah dijual sesuai dengan harga pasar, hasil penjualan tersebut digunakan untuk melunasi sisa piutangnya, jika masih kurang maka diselesaikan dengan menjual barang jaminan sehingga piutangnya lunas.

Bank Syariah memberikan fasilitas pembiayaan murabahah kepada nasabah. Setelah beberapa waktu berjalan, pembiayaan tersebut mengalami permasalahan. Salah satu upaya penyelamatan yang dilakukan oleh Bank Syariah adalah dengan memperpanjang jangka waktu fasilitas dengan tidak merubah harga jual.

Pertanyaan:

Apabila akibat penundaan pembayaran tersebut, Bank terpaksa mengeluarkan sejumlah biaya ekstra, bolehkah Bank mengenakan charge  sebagai bentuk kompensasi atas kerugian riil yang dialami?

Page 1 of 51