Bank Syariah memberikan fasilitas pembiayaan murabahah kepada nasabah. Setelah beberapa waktu berjalan, pembiayaan tersebut mengalami permasalahan. Salah satu upaya penyelamatan yang dilakukan oleh Bank Syariah adalah dengan memperpanjang jangka waktu fasilitas dengan tidak merubah harga jual.

Pertanyaan:

Apabila akibat penundaan pembayaran tersebut, Bank terpaksa mengeluarkan sejumlah biaya ekstra, bolehkah Bank mengenakan charge  sebagai bentuk kompensasi atas kerugian riil yang dialami?

Opini DPS:

Pengenaan biaya ganti rugi akibat pembiayaan yang bermasalah  diperbolehkan sepanjang nasabah sepakat atau menyetujuinya.

Penjelasan Opini:

Pembahasan ini masuk ke dalam bab ganti rugi (ta’widh). Oleh karena itu besaran dan ketentuannya mengacu pada ketentuan tentang ta’widh.

Maka perlu diperhatikan fatwa DSN No. 43/DSN-MUI/VIII /2004 yang berisi tentang ketentuan Ganti Rugi (Ta’widh). Ketentuan yang disebutkan dalam fatwa tersebut adalah:

  • Ganti rugi (ta’widh) hanya boleh dikenakan atas pihak yang dengan sengaja atau karena kelalaian melakukan sesuatu yang menyimpang dari ketentuan akad dan menimbulkan kerugian pada pihak lain.
  • Kerugian yang dapat dikenakan ta’widh sebagaimana dimaksud diatas adalah kerugian riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas.
  • Kerugian riil sebagaimana yang dimaksud diatas adalah biaya-biaya riil yang dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yang seharusnya dibayarkan.
  • Besar ganti rugi (ta’widh) adalah sesuai dengan nilai kerugian riil (real loss) yang pasti dialami (fixed cost) dalam transaksi tersebut dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) karena adanya peluang yang hilang (oportunity loss).
  • Ganti rugi yang diterima dalam transaksi dapat diakui sebagai pendapatan.
  • Jumlah ganti rugi besarnya harus tetap sesuai dengan kerugian riil dan tata cara pembayarannya tergantung kesepakatan.
  • Besarnya ganti rugi ini tidak boleh dicantumkan dalam akad.
Read 140 times
Rate this item
(0 votes)
Last modified on Friday, 03 November 2017 10:35