hendri tanjung

 

 

 

Tahun baru 2015 telah tiba. Ramai orang membicarakan tentang perencanaan-perencanaan yang akan mereka lakukan pada satu tahun ini, bahkan tak sedikit orang-orang yang memandang perencanaan jangka panjang pada tahun ini.

 

 

 

KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) Progres, STEI Tazkia sebagai organisasi mahasiswa kampus yang memiliki kredibilitas dalam bidang ekonomi islam pun tak luput dalam melakukan pembicaraan tentang perencanaan atas ekonomi islam pada tahun mendatang yang kini ekonomi islam kian marak tak hanya di Indonesia, bahkan negara-negara non muslim pun turut ramai memperbincangkan isu-isu ekonomi islam.

Pada event kali ini KSEI Progres menyelenggarakan Super KAKAP (Kajian Kamis Progres) yang mengundang pembicara Bapak Hendri Tanjung, Ph.D. yang membahas mengenai Sharia Economic Outlook 2015. Event kali ini merupakan event yang spesial karena ksei progres bekerjasama dengan Andalusia Islamic Center (Oase Spiritual, Intelektual, dan Financial Ummat) dengan mengadakan buka bersama puasa sunnah kamis. Acara yang di moderatori oleh ketua ksei progres masa amanah 2013-2014 ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak baik intern maupun ekstern ksei progres.

Awal pembicaraan Bapak Hendri Tanjung berkata bahwasanya “ketika kita berbicara, membahas ekonomi syariah, hal ini berarti kita telah turut serta dalam dakwah atas islam, dan kita juga turut mendoakan, agar perekonomian saat ini berada pada “shirotol mustaqim, yakni jalan yang lurus yang sesuai dengan syariat islam.

Menurut perkiraan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 diperkirakan akan lebih baik daripada 2015 yang akan tumbuh sebesar 5,5% dengan inflasi 4,4% dan Rata-rata kurs Rp. 11.900 / $USD. Akan tetapi pertumbuhan ekonomi ini dapat mengalami kenaikan ataupun penurunan tergantung dari pemerintahan dan antusiasme masyarakat nanti.

Pertumbuhan ekonomi mencakup 4 hal, yakni konsumsi, tenaga kerja, belanja pemerintah (goverment expenditure), dan ekspor-impor. Dari keempat aspek tersebut yang memiliki andil terbesar adalah pada sektor konsumsi. Konsumsi di Indonesia terbilang sangatlah tinggi, banyak investor-investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia untuk meraup keuntungan dari konsumsi masyarakat.

Setelah memulai pembukaan Bapak Hendri Tanjung mengajak audiens untuk melihat selayang pandang Perbankan syariah Indonesia. Menurut IFDR, 2013 perbankan syariah berada pada ranking ke 9 setelah Turki. Jumlah perbankan syariah per desember 2014 yakni 11 BUS, 23 UUS, 163 BPRS. Evaluasi pertumbuhan perbankan syariah 2014 mencakup pembiayaan sejumlah 36%, Dana Pihak ketiga 35%, Asset 40%, Deposito 62,38%, Murabahah 59,76%. Selanjutnya pembiayaan perbankan syariah 2014 mencakup pembiayaan konsumer Rp. 76,6 T, Pembiayaan modal kerja Rp. 75,7 T, Pembiayaan Investasi Rp. 35,4 T. Sehingga total pembiayaan perbankan syariah per 2014 sejumlah Rp. 187,7 T dan Total asset sejumlah Rp. 250,13T. Menurut perkiraan market share perbankan syariah 2015 dalam ranah optimis akan tumbuh >6%, moderat 5-6%, dan pesimis <5%.

Rekomendasi MES pada perbankan syariah Indonesia mencakup 1. Berani menjadi bank spesifik, fokus produk, & segmentasi, 2. Perkuat aliansi strategis dengan BPRS & BMT, 3. Perkuat SDM & Riset, 4. Perkuat peran Dewan Syariah Nasional (DSN), 5. Perkuat dukungan dan keberpihakan pemerintah, 6. Dinamisasi kurikulum pendidikan ekonomi dan keuangan bank syariah.

Selanjutnya melangkah ke ranah Asuransi Syariah. Asuransi Syariah di Indonesia sendiri berada pada peringkat ke 4 dunia (E&Y, Global Takaful Insight 2014. Jenis Asuransi Syariah di Indonesia per 2014 mencakup 3 asuransi jiwa syariah, 2 asuransi umum syariah, 17 unit usaha syariah asuransi jiwa, 23 unit usaha syariah asuransi umum, 3 unit syariah reasuransi dengan total 48 buah. Menurut perkiraan asuransi syariah 2015 pada ranah optimis akan tumbuh >20%, moderat 15-20%, dan pesimis <15%.

Asuransi Syariah di Indonesia optimis akan tumbuh 20% karena pertama, OJK akan mengacu pada aturan-aturan yang ditetapkan IFSB terkait pengawasan industri syariah. Kedua, mulai 1 Januari 2015, industri asuransi syariah akan mulai mengimplementasikan prinsip dasar penyelenggaraan usaha asuransi syariah dan reasuransi syariah. Ketiga, meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah (penduduk yang belanja 2-20US dolar/hari). Keempat, aturan OJK mengenai spin-off asuransi syariah mendapatkan tanggapan yang positif dari berbagai pihak. Kelima, pada oktober 2013, OJK mencanangkan pengembangan asuransi mikro syariah. Keenam, OJK dan BI sedang menyiapkan program layanan keuangan tanpa kantor (Branchless Banking) dalam rangka peningkatanfinancial inclusion.

Pasar modal syariah di Indonesia, evaluasi per juli 2014 terdapat 1048 efek dengan total asset 6,748,456 M dengan komposisi efek yang ada (JII) didominasi sektor perdagangan, jasa, dan investasi 20%. Dan sebesar 27% versi ISSI (Bapepam-LK). Pada sukuk, total surat utang negara (yang dapat diperjualbelikan maupun yang tidak) mencapai 1,920,244 M, dan pada reksadana syariah juga tak kalah signifikannya yang memiliki jumlah 66 buah dengan total NAB 9,593 M (Data OJK per 29 Agustus 2014).

Melihat outlook perbankan syariah pada tahun 2015, saham syariah, kinerja IHSG akan diprediksi terus meningkat di tahun 2015 dengan berbagai alasan. Pertumbuhan sukuk di 2015 masih akan dimotori oleh sukuk negara (SBSN) dengan prediksi meningkat karena tingginya permintaan.Pada Reksadana syariah, daya saing manajer investasi perlu ditingkatkan untuk menghadapi MEA (2015).

Pada sektor Keuangan Mikro Syariah, arah perkembangan pada tahun 2015 mencakup pertama, kepastian kejelasan dasar hukum yang mengakomodasi kepentingan penghimpunan dana bagi lembaga keuangan mikro (LKM), regulasi yang selaras dengan undang-undang lain dan memberi perlindungan bagi depositor skala kecil. Kedua, membangun sistem yang dapat mengawasi LKM, serta melakukan penerbitan izin pendirian LKM dan pembinaan LKM. Ketiga, setela memiliki dasar hukum dan sistem yang jelas, LKM juga harus terintegrasi dalam sektor keuangan. Keempat, memaksimalkan peran pemerintah yang tepat agar LKM menjadi katalisator pengembangan kewirausahaan pengembangan keuangan mikro, yang mana salah satu caranya adalah dengan memperluas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada target usaha produktif yang belum bankable.

Pada sektor zakat, pengumpulan dana zakat tahun 2011-2014 secara berurutan sejumlah Rp. 1,3T, Rp. 1,7 T, Rp. 2,3T, Rp. 2,7T. Outlook zakat pada tahun 2015 dengan ranah optimis >30% (menjadi Rp. 3,62T), moderat 20-30T, Pesimis <20%.

Terakhir pada Industri non keuangan syariah juga memiliki potensi yang cukup besar pada tahun 2015. Hal ini dapat kita lihat dengan munculnya trend-trend syariah pada industri-industri halal di Indonesia. Pada ranah fashion muslim, ketergantungan bahan baku impor seperti katun dan sutra, data tahun 2011, Indonesia mengimpor serat kapas sekitar 700.000 ton/tahun, kemudian kurangnya tekonlogi dan kemampuan SDM, selanjutnya kurangnya networking pengusaha untuk memasarkan produknya ke pasar yang lebih luas dan potensial,terakhir keterbatasan modal, dari 750 ribu industri kelas menengah Indonesia, 30 persennya merupakan fashion muslim.

Akhir kata, trend pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia banyak tokoh-tokoh yang optimis dengan pertumbuhan ekonomi syariah pada 2015, dan tak sedikit pula dari kalangan tokoh yang memiliki pandangan pesimis dengan berbagai alasan. Kalaulah ‘ruh perjuangan islam’ ada pada hati setiap insan, maka berbondong-bondonglah masyarakatnya untuk berjihad, menegakkan ekonomi perjuangan, ekonomi islam yang akan memberikan kesejahteraan sosial bagi seluruh umat di dunia.

Oleh : Rizal Nazarudin Firli – IEI ’13

Read 1726 times
Rate this item
(0 votes)
Last modified on Thursday, 07 January 2016 16:31